Jumat, 21 Maret 2008

anekdot kesalahanpahaman antarbudaya

Beberapa waktu lalu ad tugas yg seru..nyari anekdot antar budaya..
yaa karena emang itu matkul komunikasi lintas budaya..yg saya mbil dari beberapa website..salah satunya ketawa.com

alhasil ini deh yang saya kumpulin,,
yaa itung2 buat olah raga mulut..
senyum dikit gitu..


1. Beli Tiket Pesawat di Warung Jamu

Kejadian ini Andi alami waktu dia tinggal di Denpasar bersama orang tuanya. Mereka sering nongkrong di warung jamu tradisional di dekat rumahnya.
Pada suatu hari ketika mereka sedang duduk duduk di warung jamu, sepasang bule datang ke warung yang kelihatan meriah dari jauh. Bule kucel dengan ransel di punggung itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju ke halaman warung jamu. Dalam hati andi bangga juga jamu tradisional kita sudah dikenal dimancanegara. Buktinya si bule pun mau mengunjungi warung jamu di Indonesia. Makin dekat ke warung langkah bule tersebut kelihatan makin ragu ragu, namun tetap saja mendekati mereka. Setelah dekat, salah seorang bertanya kepada mereka dalam bahasa Inggris dengan wajah agak ragu, "Do you have a direct flight to Jogya for tomorrow?"Gantian andi yang bengong sambil saling berpandangan penuh tanda tanya. Bukannya dia nggak tahu bahasa Inggris lho! Cuman tanya ticket pesawat kok di warung jamu. Karena agak lama andi dan orang tuanya saling berpandangan tanda bingung, sekali lagi si bule bertanya, "Air mancur is a domestic flight, doesn`t it?" Astaga, ternyata nama Air mancur dikiranya nama suatu maskapai penerbangan yang sering menggunakan nama Air itu...

2. Seep Dikira Rinso

Ada keponakan saya yang ikut tinggal di Bandung dia asal dari jawa. pada suatu saat keponakan itu mau membeli rinso(detergen) ke warung tetangga orang sunda.Dia berkata ”bu beli rinso”,
Si ibu itu masuk kedalam warungnya, mencari rinso dan keluar lagi terus berkata “seep “ dan sambil masuk lagi ke dalam.
keponakan itu terus menunggu disitu dan si ibu itu keluar lagi keponakan itu bilang lagi “ga apa-apa seep juga” , sambil nunggu.Trus ada lagi bapak-bapak orang sunda dia nanya kepada keponakan itu,"Ada apa de?""Ga pa mau beli seep""Apa itu seep?" kata bapak-bapak."Sejenis rinso"Si Bapak itu ketawa,"De, kalau disini seep itu artinya habis bukan nama sejenis detergen"Si keponakan itu karena malu keponakan itu pulang sambil kesel nunggu lama-lama.

3. Beli Nasi Sambelnya Entek

Pada waktu Jono tinggal di Jakarta, dia kost di daerah Pulo Gadung. Pada waktu mau makan malam dia cari nasi ke warteg, kebetulan pada waktu itu yang jual orang jawa. Jono pesan sebungkus nasi:"Pak Nasinya satu bungkus, diberi sambal ya?"Dijawab oleh bapak yang punya warung:"Sambelnya entek mas".
Jono jawab lagi, “tidak apa sambel entek dikasih aja.” Dalam pikiran Jono sambel entek itu sejenis sambal lingkung atau sambal apa saja. Mendengar kejadian itu pembeli yang lain menjelaskan arti entek itu. Entek itu artinya habis mas. Akhirnya jono makan nasi bungkus tanpa sambal.
Sent by: Ahmad Bustomi on May 21st, 2004

4. Sama-sama Podho

Gue orang Betawi asli, ayah gue ke yogya untuk berkunjung ke adiknya yang tugas di Yogya.Pas lagi beli oleh-oleh, terus ayah gue nanya ke mbok penjual kue. Katanya nama kue itu Jenang dengan bungkus Merah.Ayah gue nunjuk yang sebelahnya dengan bungkus yang beda kuning kata si mbok, itu yang bungkus kuning podho (podho dalam bahasa Jawa artinya: sama), ya udah kata ayah gue jenang 10 podho 10.Langsung si mbok penjual kue tertawa, dan ayah gue bingung.
Sent by: Farah on Mar 24th, 2004

5. Merek asing dan bahasa Ibu

Seorang kawan yang baru pulang haji menyodorkan buah tangan berupa kue isi kurma. Merek kue itu mengundang senyum. Kue itu bermerek "Al Batal". Tentu, dengan mengandalkan bahasa ibu, saya berseru, “Kenapa batal? Maksudnya tidak jadi? Hm, tidak adakah merek yang lebih menarik?” Muhammad Samir, lelaki Mesir yang bekerja di seksi bahasa Arab di tempat itu pun lalu membantu menjelaskan, Al Batal artinya Pahlawan. Kecerobohan saya meng-indonesiakan Al Batal itu tentu karena derasnya pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia, yang kemudian membuat saya sok tahu sejumlah kata dalam bahasa Arab. Saya teringat bahwa di tanah air ada lelucon: apa bahasa Arabnya laci? Jawabnya, Almari. Kalau bahasa Arabnya panci? Alminium! Bahasa Arabnya minuman keras? Ya, alkohol!
Al Batal, sang pahlawan..

Waduh,nashigoren!Lalu bagaimana dengan menu di restoran Thailand ini? “Nashigoren”. Saya mudah menebak, ini maksudnya nasi goreng. Tapi pelayan restoran dengan percaya diri menjelaskan bahwa “nashigoren” adalah makanan khas Thailand, yang disajikan dalam buah nenas yang telah dikeluarkan isinya! Wah, nasionalisme saya bergolak, enak saja mengklaim nashigoren makanan tradisional Thailand. Itu jelas-jelas menu asli Indonesia. Lalu kawan di samping saya mengingatkan, “Ada hak patennya tidak? Bukankah tempe, kunyit dan jahe, sudah dipatenkan Jepang. Puluhan tanaman asli kita malah dipatenkan Amerika. Nasi goreng ada patennya tidak?” Kali ini sayahanya bengong.

Tidak ada komentar: